Di era serba produktif, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang. Ni Luh Listiani, mahasiswa semester tujuh Jurusan Akuntansi, Program Studi Sarjana Terapan Akuntansi Manajerial, Politeknik Negeri Bali, menjadi contoh nyata bahwa prestasi, pengalaman, dan hobi dapat berjalan beriringan dengan manajemen waktu yang baik. Aktif dan penuh semangat, ia tidak hanya fokus pada perkuliahan, tetapi juga mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional, serta memperkaya pengalaman melalui pekerjaan freelance. Di sela kesibukan, ia menyalurkan hobi mendaki gunung yang menguatkan fisik dan mental, sekaligus memberi ruang refleksi diri. Ia adalah potret mahasiswa produktif yang mampu menyeimbangkan akademik, karier, dan kehidupan pribadi dengan tekun, disiplin, dan berani mencoba hal baru.
Sejak di bangku SMK, Listia sudah menyukai akuntansi dan aktif melalui Stigmas Accounting Club, bahkan meraih dua penghargaan di Universitas Udayana. Saat kuliah, ia bergabung dengan Kelompok Mahasiswa Berprestasi Akuntansi dan mengasah kemampuannya melalui berbagai lomba, seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lomba poster, video, hingga karya tulis. Prestasi paling berkesan adalah Juara Harapan 1 tingkat nasional di Universitas Bangka Belitung, ketika ia bersama tim vokasi PNB bersaing dengan universitas ternama seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, hingga Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Suasana kompetitif itu tidak hanya menjadi sumber motivasi, tetapi juga kebanggaan tersendiri karena mampu bertahan di tengah persaingan ketat.
Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari piala, tetapi juga dari keberanian untuk mencoba dan menghargai proses. Saat dipercaya menjadi Ketua KSPM (Kelompok Studi Pasar Modal) tahun 2024, ia menghadapi banyak tantangan. Namun, pengalaman tersebut justru mengasah kepemimpinan, kerja sama, serta keterampilan manajemen waktu. Ia menjaga keseimbangan antara kuliah, organisasi, dan aktivitas pribadi dengan menyusun agenda, memanfaatkan waktu luang secara produktif, serta menjaga fokus belajar. Dengan disiplin, tanggung jawab akademik maupun organisasi terselesaikan tanpa mengorbankan kesehatan dan waktu istirahat.
Menariknya, Listia mengaku tidak terlalu gemar membaca. Saat burnout, ia biasanya menonton, menjauh sejenak dari media sosial, menikmati suasana pantai, jogging di Kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), atau sekadar membeli camilan favorit. Mendaki juga menjadi hobi barunya. Dua kali mendaki Gunung Batur memberinya ruang untuk melepaskan emosi sekaligus menemukan energi positif yang baru.
Baginya, produktivitas tidak diukur dari seberapa banyak aktivitas yang dilakukan, melainkan dari kemampuan mengenali kapasitas diri. Memaksakan terlalu banyak kegiatan justru membuat hasil tidak optimal dan berisiko merusak reputasi. Karena itu, penting untuk menyesuaikan pilihan dengan kemampuan serta mengatur waktu secara disiplin. Produktivitas yang sehat ditandai dengan fokus, tujuan yang jelas, memberi manfaat, dan tetap menjaga hubungan sosial.
Menurut Listia, seni “cukup” adalah kunci keseimbangan hidup. Rasa cukup bukan berarti menyerah, melainkan pijakan untuk terus berkembang. Ia pun pernah merasa kurang dan membandingkan diri, namun pengalaman itu mengajarkannya bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses belajar. Arti hidup, baginya, hadir ketika seseorang mampu mencintai diri sendiri, menghargai usaha, serta menyeimbangkan kuliah, kesehatan, keluarga, dan kebahagiaan. “Rajin belajar, beri usaha terbaik, namun jangan terlalu keras pada diri sendiri. Setiap orang punya kelebihan, dan Tuhan selalu menyiapkan rencana baik bahkan saat kita merasa belum sepenuhnya cukup,” pesannya. (asr, kny, fbr, cyn, ght)
Bagi mahasiswa semester akhir, skripsi sering dianggap sebagai mimpi buruk...
Menjadi mahasiswa merupakan fase penting yang penuh dinamika. Pada tahap...
Di era serba produktif, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara...
Politeknik Negeri Bali (PNB) memiliki banyak dosen muda berbakat, namun...
Di era digital, persoalan keuangan kerap menjadi tantangan bagi generasi...
Keamanan merupakan salah satu faktor utama yang menunjang kelancaran aktivitas...
Di tengah dinamika aktivitas kampus, sebuah wajah baru hadir dan...
Industri sastra remaja Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin berwarna...
Di era serba produktif, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga mampu bertahan, beradaptasi, dan berkembang. Ni Luh Listiani, mahasiswa semester tujuh Jurusan Akuntansi, Program Studi Sarjana Terapan Akuntansi Manajerial, Politeknik Negeri Bali, menjadi contoh nyata bahwa prestasi, pengalaman, dan hobi dapat berjalan beriringan dengan manajemen waktu yang baik. Aktif dan penuh semangat, ia tidak hanya fokus pada perkuliahan, tetapi juga mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional, serta memperkaya pengalaman melalui pekerjaan freelance. Di sela kesibukan, ia menyalurkan hobi mendaki gunung yang menguatkan fisik dan mental, sekaligus memberi ruang refleksi diri. Ia adalah potret mahasiswa produktif yang mampu menyeimbangkan akademik, karier, dan kehidupan pribadi dengan tekun, disiplin, dan berani mencoba hal baru.
Sejak di bangku SMK, Listia sudah menyukai akuntansi dan aktif melalui Stigmas Accounting Club, bahkan meraih dua penghargaan di Universitas Udayana. Saat kuliah, ia bergabung dengan Kelompok Mahasiswa Berprestasi Akuntansi dan mengasah kemampuannya melalui berbagai lomba, seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lomba poster, video, hingga karya tulis. Prestasi paling berkesan adalah Juara Harapan 1 tingkat nasional di Universitas Bangka Belitung, ketika ia bersama tim vokasi PNB bersaing dengan universitas ternama seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, hingga Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Suasana kompetitif itu tidak hanya menjadi sumber motivasi, tetapi juga kebanggaan tersendiri karena mampu bertahan di tengah persaingan ketat.
Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari piala, tetapi juga dari keberanian untuk mencoba dan menghargai proses. Saat dipercaya menjadi Ketua KSPM (Kelompok Studi Pasar Modal) tahun 2024, ia menghadapi banyak tantangan. Namun, pengalaman tersebut justru mengasah kepemimpinan, kerja sama, serta keterampilan manajemen waktu. Ia menjaga keseimbangan antara kuliah, organisasi, dan aktivitas pribadi dengan menyusun agenda, memanfaatkan waktu luang secara produktif, serta menjaga fokus belajar. Dengan disiplin, tanggung jawab akademik maupun organisasi terselesaikan tanpa mengorbankan kesehatan dan waktu istirahat.
Menariknya, Listia mengaku tidak terlalu gemar membaca. Saat burnout, ia biasanya menonton, menjauh sejenak dari media sosial, menikmati suasana pantai, jogging di Kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), atau sekadar membeli camilan favorit. Mendaki juga menjadi hobi barunya. Dua kali mendaki Gunung Batur memberinya ruang untuk melepaskan emosi sekaligus menemukan energi positif yang baru.
Baginya, produktivitas tidak diukur dari seberapa banyak aktivitas yang dilakukan, melainkan dari kemampuan mengenali kapasitas diri. Memaksakan terlalu banyak kegiatan justru membuat hasil tidak optimal dan berisiko merusak reputasi. Karena itu, penting untuk menyesuaikan pilihan dengan kemampuan serta mengatur waktu secara disiplin. Produktivitas yang sehat ditandai dengan fokus, tujuan yang jelas, memberi manfaat, dan tetap menjaga hubungan sosial.
Menurut Listia, seni “cukup” adalah kunci keseimbangan hidup. Rasa cukup bukan berarti menyerah, melainkan pijakan untuk terus berkembang. Ia pun pernah merasa kurang dan membandingkan diri, namun pengalaman itu mengajarkannya bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses belajar. Arti hidup, baginya, hadir ketika seseorang mampu mencintai diri sendiri, menghargai usaha, serta menyeimbangkan kuliah, kesehatan, keluarga, dan kebahagiaan. “Rajin belajar, beri usaha terbaik, namun jangan terlalu keras pada diri sendiri. Setiap orang punya kelebihan, dan Tuhan selalu menyiapkan rencana baik bahkan saat kita merasa belum sepenuhnya cukup,” pesannya. (asr, kny, fbr, cyn, ght)