Bagi mahasiswa semester akhir, skripsi sering dianggap sebagai mimpi buruk yang penuh tekanan. Proses panjang dengan revisi berulang dan berbagai hambatan kerap membuat mereka merasa stres, frustrasi, bahkan putus asa, hingga terasa seperti perjalanan yang tiada akhir. Menurut Bapak I Made Adhi Wirayana, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Jurusan Akuntansi di Politeknik Negeri Bali, langkah awal yang dapat dilakukan mahasiswa agar mampu bertahan dalam menyusun skripsi adalah memahami arah penelitian sejak dini melalui mata kuliah pendukung, seperti Metodologi Penelitian dan Seminar. Dari mata kuliah ini, mahasiswa dapat menentukan pendekatan yang sesuai, apakah kualitatif yang lebih menekankan analisis kata dan wawancara, atau kuantitatif yang berbasis data kuesioner. Setelah menemukan minat yang sesuai, mahasiswa disarankan untuk memperkaya ide dengan membaca jurnal maupun skripsi terdahulu, sehingga memiliki gambaran yang jelas dan lebih terarah ketika menghadapi proses penyusunan skripsi.
Menyusun skripsi dapat kita ibaratkan seperti lomba lari jarak jauh, di mana tantangan terbesarnya bukanlah kecepatan, melainkan konsistensi. Menurut Adhi Wirayana, titik stres yang paling umum dialami mahasiswa sering kali bersumber dari kesulitan dalam memperoleh data atau teori, kesulitan merumuskan latar belakang penelitian, hingga kendala komunikasi yang kurang lancar dengan Dosen Pembimbing. Namun, faktor utama yang sering memicu stres adalah merasa kekurangan waktu karena jadwal yang terlalu padat. Untuk mengatasinya, mahasiswa perlu menjaga konsistensi kecil setiap hari. Rutinitas ini membantu menjaga momentum, membuat proses lebih menyenangkan, dan mencegah tekanan besar di akhir. Beliau menyarankan agar mahasiswa meluangkan waktu minimal 30 sampai 60 menit setiap hari untuk mengerjakan skripsi, meskipun hanya membaca jurnal. Jika mahasiswa mengalami stuck atau stres, Adhi Wirayana menegaskan pentingnya segera berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing.
Selain itu, strategi pengelolaan waktu juga sangat penting agar mahasiswa tidak dikejar deadline. Strategi yang efektif adalah dengan mengenali jam kerja paling nyaman bagi diri sendiri, kemudian membagi pekerjaan menjadi dua kategori, yaitu "kolaborasi" untuk pekerjaan yang memerlukan diskusi, serta "mandiri" untuk pekerjaan yang memerlukan konsentrasi tinggi seperti pengumpulan dan pengolahan data maupun tahap penulisan. Yang terpenting, jangan menunggu tulisan kita sempurna 100% untuk melakukan bimbingan. Sebaiknya, konsultasikan draft yang sudah ada kepada Dosen Pembimbing, meskipun masih jauh dari sempurna.
Menjaga komunikasi yang sopan dan teratur dengan Dosen Pembimbing juga merupakan kunci kelancaran bimbingan skripsi sekaligus cara untuk mengurangi stres. Mahasiswa perlu memahami prinsip “siapa yang membutuhkan, dialah yang harus mengalah,” sehingga komunikasi dengan dosen harus dilakukan secara santun, misalnya dengan memperkenalkan diri dan menanyakan waktu bimbingan menggunakan bahasa yang formal. “Selamat pagi, perkenalkan saya (nama) dari jurusan (nama jurusan), kapan Bapak berkenan memberikan waktu untuk bimbingan nggih?” ungkap Adhi Wirayana. Selain itu, mahasiswa wajib hadir dalam kondisi siap setelah memperoleh jadwal bimbingan, dan idealnya bimbingan dilakukan sebanyak delapan hingga sembilan kali agar hasil yang dicapai lebih optimal.
Dalam proses penyusunan skripsi, bimbingan dosen memegang peran penting dalam membantu mahasiswa mencapai hasil yang baik. Dosen tidak hanya memberi arahan pada isi penelitian, tetapi juga melatih mahasiswa agar lebih teliti, konsisten, dan disiplin. Namun, banyak mahasiswa belum memanfaatkannya secara optimal. Mereka cenderung hanya memperbaiki bagian yang diberi catatan tanpa memeriksa keseluruhan naskah, sehingga terjadi pengulangan kesalahan di bab atau bagian lain yang dapat memperlambat proses bimbingan. “Misalnya, penulisan judul tabel yang sudah dikoreksi di satu bagian tetap salah di bagian lain, atau ketidaksesuaian format seperti penggunaan italic dan tata tulis yang tidak konsisten,” ungkap Adhi Wirayana. Kesalahan teknis seperti ini perlu diperiksa secara menyeluruh agar proses bimbingan dapat berlangsung lebih efektif dan efisien.
Kesiapan mental menjelang sidang juga perlu diperhatikan. Bapak Adhi Wirayana menegaskan, “Percayalah setiap sidang pasti ada pertanyaan, dan jawab saja sesuai dengan skripsi yang telah dibuat. Apabila tidak mengetahui jawabannya, terimalah masukan dosen dan sampaikan bahwa perbaikan akan dilakukan,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa kunci menghadapi sidang bukan hanya pada penguasaan isi skripsi, tetapi juga pada sikap yang tenang, rendah hati, dan terbuka terhadap kritik. Dengan menyiapkan mental yang kuat, mahasiswa dapat mengendalikan rasa gugup, berpikir lebih jernih saat menjawab pertanyaan, serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam menjelaskan hasil penelitiannya. Sebagai hasilnya, komunikasi yang sehat dan kesiapan mental yang matang akan membuat mahasiswa lebih tenang, dan siap menghadapi dinamika sidang dengan baik.
I Made Adhi Wirayana menegaskan bahwa keberhasilan skripsi terletak pada kemauan untuk terus berproses. Menurutnya, “skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai”. Hasil penulisan yang belum sempurna bukanlah masalah utama, karena proses bimbingan justru membantu mahasiswa memahami kesalahan dan memperbaikinya. Oleh karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak terjebak pada keinginan menghasilkan tulisan yang langsung sempurna, melainkan berfokus pada kemajuan bertahap dengan meluangkan waktu secara konsisten setiap hari, memeriksa naskah sebelum bimbingan, serta segera berkonsultasi ketika menghadapi kendala. Dengan memanfaatkan bimbingan dosen secara optimal dan menjaga komitmen hingga tahap akhir, perjalanan skripsi bukan lagi sumber stres, melainkan proses pendewasaan akademik yang berharga sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan skripsi dengan hasil yang baik dan tepat waktu. (ris, ell, gst, dif)
Menjadi mahasiswa merupakan fase penting yang penuh dinamika. Pada tahap...
Di era serba produktif, mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara...
Politeknik Negeri Bali (PNB) memiliki banyak dosen muda berbakat, namun...
Menjadi mahasiswa di era penuh tuntutan bukanlah hal yang mudah....
Di era digital, persoalan keuangan kerap menjadi tantangan bagi generasi...
Keamanan merupakan salah satu faktor utama yang menunjang kelancaran aktivitas...
Film Sore: Istri dari Masa Depan adalah film fiksi romantis...
Tiga mahasiswa Laksmi Wasista, Dea Eka Putri Sucipto, dan Ayu...
Bagi mahasiswa semester akhir, skripsi sering dianggap sebagai mimpi buruk yang penuh tekanan. Proses panjang dengan revisi berulang dan berbagai hambatan kerap membuat mereka merasa stres, frustrasi, bahkan putus asa, hingga terasa seperti perjalanan yang tiada akhir. Menurut Bapak I Made Adhi Wirayana, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Jurusan Akuntansi di Politeknik Negeri Bali, langkah awal yang dapat dilakukan mahasiswa agar mampu bertahan dalam menyusun skripsi adalah memahami arah penelitian sejak dini melalui mata kuliah pendukung, seperti Metodologi Penelitian dan Seminar. Dari mata kuliah ini, mahasiswa dapat menentukan pendekatan yang sesuai, apakah kualitatif yang lebih menekankan analisis kata dan wawancara, atau kuantitatif yang berbasis data kuesioner. Setelah menemukan minat yang sesuai, mahasiswa disarankan untuk memperkaya ide dengan membaca jurnal maupun skripsi terdahulu, sehingga memiliki gambaran yang jelas dan lebih terarah ketika menghadapi proses penyusunan skripsi.
Menyusun skripsi dapat kita ibaratkan seperti lomba lari jarak jauh, di mana tantangan terbesarnya bukanlah kecepatan, melainkan konsistensi. Menurut Adhi Wirayana, titik stres yang paling umum dialami mahasiswa sering kali bersumber dari kesulitan dalam memperoleh data atau teori, kesulitan merumuskan latar belakang penelitian, hingga kendala komunikasi yang kurang lancar dengan Dosen Pembimbing. Namun, faktor utama yang sering memicu stres adalah merasa kekurangan waktu karena jadwal yang terlalu padat. Untuk mengatasinya, mahasiswa perlu menjaga konsistensi kecil setiap hari. Rutinitas ini membantu menjaga momentum, membuat proses lebih menyenangkan, dan mencegah tekanan besar di akhir. Beliau menyarankan agar mahasiswa meluangkan waktu minimal 30 sampai 60 menit setiap hari untuk mengerjakan skripsi, meskipun hanya membaca jurnal. Jika mahasiswa mengalami stuck atau stres, Adhi Wirayana menegaskan pentingnya segera berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing.
Selain itu, strategi pengelolaan waktu juga sangat penting agar mahasiswa tidak dikejar deadline. Strategi yang efektif adalah dengan mengenali jam kerja paling nyaman bagi diri sendiri, kemudian membagi pekerjaan menjadi dua kategori, yaitu "kolaborasi" untuk pekerjaan yang memerlukan diskusi, serta "mandiri" untuk pekerjaan yang memerlukan konsentrasi tinggi seperti pengumpulan dan pengolahan data maupun tahap penulisan. Yang terpenting, jangan menunggu tulisan kita sempurna 100% untuk melakukan bimbingan. Sebaiknya, konsultasikan draft yang sudah ada kepada Dosen Pembimbing, meskipun masih jauh dari sempurna.
Menjaga komunikasi yang sopan dan teratur dengan Dosen Pembimbing juga merupakan kunci kelancaran bimbingan skripsi sekaligus cara untuk mengurangi stres. Mahasiswa perlu memahami prinsip “siapa yang membutuhkan, dialah yang harus mengalah,” sehingga komunikasi dengan dosen harus dilakukan secara santun, misalnya dengan memperkenalkan diri dan menanyakan waktu bimbingan menggunakan bahasa yang formal. “Selamat pagi, perkenalkan saya (nama) dari jurusan (nama jurusan), kapan Bapak berkenan memberikan waktu untuk bimbingan nggih?” ungkap Adhi Wirayana. Selain itu, mahasiswa wajib hadir dalam kondisi siap setelah memperoleh jadwal bimbingan, dan idealnya bimbingan dilakukan sebanyak delapan hingga sembilan kali agar hasil yang dicapai lebih optimal.
Dalam proses penyusunan skripsi, bimbingan dosen memegang peran penting dalam membantu mahasiswa mencapai hasil yang baik. Dosen tidak hanya memberi arahan pada isi penelitian, tetapi juga melatih mahasiswa agar lebih teliti, konsisten, dan disiplin. Namun, banyak mahasiswa belum memanfaatkannya secara optimal. Mereka cenderung hanya memperbaiki bagian yang diberi catatan tanpa memeriksa keseluruhan naskah, sehingga terjadi pengulangan kesalahan di bab atau bagian lain yang dapat memperlambat proses bimbingan. “Misalnya, penulisan judul tabel yang sudah dikoreksi di satu bagian tetap salah di bagian lain, atau ketidaksesuaian format seperti penggunaan italic dan tata tulis yang tidak konsisten,” ungkap Adhi Wirayana. Kesalahan teknis seperti ini perlu diperiksa secara menyeluruh agar proses bimbingan dapat berlangsung lebih efektif dan efisien.
Kesiapan mental menjelang sidang juga perlu diperhatikan. Bapak Adhi Wirayana menegaskan, “Percayalah setiap sidang pasti ada pertanyaan, dan jawab saja sesuai dengan skripsi yang telah dibuat. Apabila tidak mengetahui jawabannya, terimalah masukan dosen dan sampaikan bahwa perbaikan akan dilakukan,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa kunci menghadapi sidang bukan hanya pada penguasaan isi skripsi, tetapi juga pada sikap yang tenang, rendah hati, dan terbuka terhadap kritik. Dengan menyiapkan mental yang kuat, mahasiswa dapat mengendalikan rasa gugup, berpikir lebih jernih saat menjawab pertanyaan, serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam menjelaskan hasil penelitiannya. Sebagai hasilnya, komunikasi yang sehat dan kesiapan mental yang matang akan membuat mahasiswa lebih tenang, dan siap menghadapi dinamika sidang dengan baik.
I Made Adhi Wirayana menegaskan bahwa keberhasilan skripsi terletak pada kemauan untuk terus berproses. Menurutnya, “skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai”. Hasil penulisan yang belum sempurna bukanlah masalah utama, karena proses bimbingan justru membantu mahasiswa memahami kesalahan dan memperbaikinya. Oleh karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak terjebak pada keinginan menghasilkan tulisan yang langsung sempurna, melainkan berfokus pada kemajuan bertahap dengan meluangkan waktu secara konsisten setiap hari, memeriksa naskah sebelum bimbingan, serta segera berkonsultasi ketika menghadapi kendala. Dengan memanfaatkan bimbingan dosen secara optimal dan menjaga komitmen hingga tahap akhir, perjalanan skripsi bukan lagi sumber stres, melainkan proses pendewasaan akademik yang berharga sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan skripsi dengan hasil yang baik dan tepat waktu. (ris, ell, gst, dif)