E-Mandiri

Laporan Khusus

Berhenti Menghukum Diri, Mulai Menghargai Proses

08 Nov 2025

     Menjadi mahasiswa di era penuh tuntutan bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi, ada dorongan untuk berprestasi, aktif, dan berkompetisi. Namun, di sisi lain, kesehatan mental serta kemampuan menerima diri sendiri sering kali terabaikan. Kondisi ini tercermin dari pengalaman I Putu Oka Darmawan, seorang mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi sekaligus berusaha menjaga keseimbangan antara pencapaian dan ketenangan batin.

 

     Sejak SMA, Oka terbiasa melibatkan diri dalam kegiatan organisasi maupun perlombaan. Prinsip yang ia pegang cukup sederhana, yakni selalu bersikap seperti gelas kosong yang siap menerima ilmu dan pengalaman dari siapa pun. Prinsip tersebut ia pelajari dari pesan sang kakek yang masih ia ingat hingga kini. Baginya, pertemuan dengan orang baru bukan sekadar ajang berkenalan, melainkan peluang untuk menambah pengetahuan. “Setiap orang yang kita temui hari ini bisa saja jadi pintu rezeki di masa depan,” ujarnya. Dari sinilah ia membentuk pola pikir terbuka dan adaptif yang kemudian menjadi bekal penting ketika memasuki dunia perkuliahan.

     Padatnya aktivitas tidak pernah menjadi beban. Justru, Oka merasa lebih bersemangat ketika memiliki banyak kegiatan. Ia selalu berusaha untuk tampil ceria dan memberikan kesan positif. Meski begitu, ia tidak menutup mata terhadap kegagalan. Alih-alih larut dalam kekecewaan, Oka memilih untuk belajar dari mereka yang berhasil. Ia menekankan pentingnya bertanya, mengamati, lalu mencoba menerapkan cara-cara baru dalam memperbaiki diri.

     Salah satu pengalaman yang paling menguji dirinya adalah ketika memutuskan masuk program studi Manajemen Bisnis Internasional dengan kemampuan bahasa Inggris masih terbatas. Walau sempat menjadi hambatan, ia perlahan beradaptasi hingga terbiasa, dan menyadari bahwa kesulitan juga bagian dari perjalanan. Tergabung dalam beberapa organisasi, membuatnya belajar banyak keterampilan berbeda, mulai dari tata administrasi hingga etika berkomunikasi dengan berbagai pihak. Semua pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa proses lebih penting daripada sekadar hasil.

     Di balik aktivitasnya, Oka menaruh perhatian besar pada konsep self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri. Menurutnya, bentuk sederhana dari self-compassion bisa berupa berbagi cerita dengan pasangan, berdiskusi dengan teman yang sefrekuensi, atau sekadar menelepon kakek dan nenek ketika merasa lelah. Ia juga menekankan pentingnya memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat. Tidur, bercengkerama ringan, atau menikmati waktu jeda menjadi caranya menjaga keseimbangan. “Istirahat tidak boleh dianggap kelemahan, karena itu bagian dari menjaga kejernihan pikiran,” ucapnya.

     Oka juga menyadari bahwa konsistensi dan pengaturan prioritas adalah kunci untuk menghindari tekanan berlebihan. Baginya, kuliah tetap menjadi fokus utama dan organisasi sebagai pelengkap. Dengan cara itu, ia mampu menyeimbangkan ambisi akademik dan aktivitas sosial tanpa kehilangan kendali.

     Refleksi terbesarnya terletak pada hubungan dengan Tuhan. Oka memandang doa bukan sekadar permintaan, melainkan ruang untuk berkeluh kesah sekaligus menemukan ketenangan. Ia percaya bahwa usaha manusia memang harus maksimal, tetapi hasil akhir tetap bergantung pada kehendak Tuhan. “Kalau doa saya tidak terkabul, bukan berarti usaha saya sia-sia,” tuturnya.

     Pengalaman dan pandangan Oka menunjukkan bahwa mahasiswa tidak harus selalu keras pada diri sendiri. Justru dengan menjaga keseimbangan antara ambisi, proses belajar, dan kelembutan terhadap diri, perjalanan akan menjadi lebih sehat dan bermakna. Baginya, proses dengan segala jatuh bangunnya adalah ruang paling berharga untuk tumbuh dan berkembang. Hasil memang penting, tetapi proseslah yang membentuk manusia, dari situlah seseorang akan belajar menerima diri apa adanya, mengambil pelajaran dari kegagalan, dan melangkah lebih matang menghadapi perubahan. (rah, osh, flw, dvs, rna)

Daftar Komentar

puspita

keren banget!!

Beri Komentar

*Email anda tidak akan kami tampilkan

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved