E-Mandiri

Kata Mahasiswa

Prestasi dan Keseimbangan: Perjalanan Mahasiswa di Tengah tuntutan

14 Nov 2025

Tiga mahasiswa Laksmi Wasista, Dea Eka Putri Sucipto, dan Ayu Berliana menghadapi perjalanan prestasi yang penuh tantangan, mulai dari tekanan akademik, kesibukan organisasi, persiapan lomba, hingga perjuangan menjaga kesehatan mental dan kehidupan sosial. Meski datang dari pengalaman berbeda, ketiganya memiliki benang merah yang sama: prestasi tidak hanya tentang menang, tetapi tentang proses mengenali diri, mengatur waktu, menghadapi kegagalan, dan menjaga keseimbangan agar tetap berkembang tanpa kehilangan jati diri.

     Prestasi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika berhasil naik peringkat di kelas, namun tetap bisa mengikuti kompetisi karate. Momen itu terasa sangat membanggakan,  karena saya bisa menyeimbangkan dua hal yang sama penting: akademik dan non-akademik. Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah manajemen waktu. Sering kali tugas kuliah, kegiatan organisasi, dan lomba datang sering secara bersamaan. Kepala rasanya penuh, tetapi justru dari situ saya belajar menentukan prioritas dan berani mengatakan tidak pada hal-hal di luar kapasitas saya.

     Saya juga pernah merasa jenuh, terutama ketika target tidak tercapai atau jadwal terlalu padat. Untuk mengatasinya, saya memilih beristirahat sejenak, berjalan bersama teman, berolahraga ringan, atau sekadar tidur cukup. Cara sederhana itu membantu saya memulihkan energi dan semangat. Dari pengalaman tersebut, saya juga semakin menyadari pentingnya kesehatan mental. Saya percaya, membicarakan kesehatan mental bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam mengenali diri sendiri.

     Motivasi saya sederhana, yakni ingin bermanfaat bagi orang lain. Bagi saya, prestasi tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi orang di sekitar. Prinsip itu yang membuat saya berusaha terus melangkah tanpa harus mengorbankan kesehatan mental atau hubungan sosial. Saat gagal, saya belajar untuk mengevaluasi diri dan menerima kegagalan sebagai bagian dari proses. Saat berhasil, saya melatih diri untuk tetap rendah hati. Keduanya menumbuhkan keseimbangan mental, tidak mudah sombong, tetapi juga tidak gampang putus asa.

     Pernah ada masa ketika saya terlalu fokus mengejar prestasi hingga lupa meluangkan waktu untuk teman dan diri sendiri. Dari situ saya belajar bahwa hidup tidak selalu soal prestasi. Saya mulai menata ulang jadwal dan memberi ruang bagi kehidupan sosial agar lebih seimbang. Bagi saya, kegagalan bukanlah akhir, melainkan bahan bakar untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi. Yang paling penting, saya selalu mengingat tujuan awal: berprestasi untuk perkembangan diri, bukan demi memenuhi ekspektasi orang lain.

     Saya percaya setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Prestasi tidak selalu berarti menjadi juara lomba. Bisa juga diwujudkan melalui konsistensi kuliah, aktif berorganisasi, atau berani keluar dari zona nyaman. Jadi, kita tidak perlu menjadi orang lain. Cukup menjadi versi terbaik dari diri sendiri, karena itu sudah lebih dari cukup.

     Prestasi yang paling berkesan bagi saya sejauh ini adalah meraih Juara 1 Presentation Skill BMC PNB. Itu merupakan juara pertama saya sepanjang hidup. Sebelumnya, saya pernah mengikuti lomba yang sama, namun hasilnya belum maksimal karena hanya menempati peringkat ketiga. Dari pengalaman tersebut, saya banyak belajar tentang bagaimana cara menyampaikan materi dengan lebih baik sekaligus melatih diri untuk mengendalikan rasa gugup dan tegang saat berbicara di depan umum. Prosesnya tidak hanya melalui menonton video presentasi, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang membuat saya berkembang lebih jauh lagi.

     Dalam perjalanan mempertahankan prestasi, tantangan terbesar bagi saya adalah mengatur waktu. Ketika harus membagi fokus antara prestasi, akademik, dan kegiatan organisasi, sering kali saya merasa kewalahan. Terkadang, salah satu dari ketiganya tidak bisa saya kerjakan secara maksimal. Mengatur waktu agar tetap seimbang adalah hal tersulit, namun juga yang paling penting untuk terus dilatih.

     Saya juga pernah berada di titik jenuh, ketika rasa lelah menumpuk hingga kehilangan semangat. Saat itu, saya merasa apa pun yang saya lakukan tidak pernah cukup baik. Cara saya mengatasinya cukup sederhana: berhenti sejenak dan memberi ruang untuk refleksi diri. Walau butuh waktu untuk pulih, saya belajar berdamai dengan kondisi tersebut, karena perasaan seperti ini adalah bagian dari perjalanan mahasiswa.

     Saya percaya bahwa menjaga kesehatan mental adalah hal yang sangat penting. Langkah pertama yang saya lakukan adalah berusaha menerima diri sendiri. Mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi saya itu sangat berarti. Saya bukan mahasiswa yang luar biasa, tetapi saya percaya setiap tantangan bisa saya hadapi karena saya punya diri sendiri yang selalu siap mendampingi.

Motivasi terbesar saya untuk terus berprestasi tanpa mengorbankan kesehatan mental dan kehidupan sosial datang dari lingkungan yang suportif. Teman-teman selalu mendukung, mengingatkan, dan menguatkan ketika saya mulai meragukan diri sendiri. Dukungan itu membuat saya mampu melangkah dengan seimbang. Terima kasih khusus saya sampaikan untuk teman-teman spesial saya, Sakatonic.

Dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagalan, saya selalu berpegang pada satu kutipan: “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.”  Apa pun hasil yang saya peroleh, saya berusaha menerima dengan lapang dada dan berdoa agar diberi kekuatan untuk menjalaninya. Keyakinan itu membuat saya lebih tenang serta mampu menjaga kesehatan mental, baik ketika berada di puncak keberhasilan maupun saat menghadapi kegagalan. Bagi saya, setiap hasil adalah bagian dari rencana Tuhan yang terbaik.

     Saya juga pernah menghadapi situasi ketika mengejar prestasi berbenturan dengan kesehatan mental atau kehidupan sosial. Cara terbaik yang saya lakukan adalah berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi ruang untuk diri sendiri. Saya memilih mengerjakan sesuatu sedikit demi sedikit agar tidak kewalahan. Karena perlahan bukan berarti berhenti pelan tapi pasti, kita tetap bisa sampai pada tujuan.

     Kegagalan bagi saya bukanlah batu sandungan, melainkan bagian penting dari proses belajar. Wajar bila merasa sedih, tetapi setelah itu saya selalu mencoba mengevaluasi apa yang salah, apa yang kurang, dan bagaimana cara memperbaikinya. Perlahan menutup kesalahan-kesalahan itu membuat saya terus berkembang, baik dalam hal kecil maupun besar.

     Tentang harapan orang lain, jujur saya masih sering merasa takut. Namun saya belajar bahwa keyakinan pada diri sendiri adalah hal utama. Pada akhirnya, hanya saya dan Tuhan yang benar-benar tahu siapa saya sebenarnya. Itu yang membuat saya tetap berusaha menjadi diri sendiri.

     Untuk teman-teman yang merasa dirinya “biasa-biasa saja,” pesan saya: ayo kita bangkit bersama! Semua orang punya potensi di tempatnya masing-masing. Coba tanyakan pada diri sendiri: apa hal yang paling kamu suka? Mulailah dari sana, dan perlahan kamu akan menemukan jawabannya. Jangan takut. Kalau ingin jadi bintang, jangan pernah meredupkan cahayamu. (tia,lra,chy,mth,lng)

Daftar Komentar

Beri Komentar

*Email anda tidak akan kami tampilkan

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved