E-Mandiri

The Man in the House

Oleh @B.M. Satria D. Maharta

Hujan lagi! Entah keberapa kalinya bulan ini, ke empat puluhnya, mungkin? Oh dan anginnya-verdomme! Kurang ajar sekali malam ini. Tak sesopan angin di Coromandel!. Beda, biar kau tahu, cuaca di sana lebih sabar. Atapku bocor sejak badai minggu lalu, Pohon tumbang menimpa gentengku juga. Penghuni-ku belum memperbaikinya, mereka selalu bilang “nanti, nanti.” Tapi tak apa, mau bagaimana lagi? Aku tak punya tangan untuk memperbaikiku sendiri. Hal ini, masih bisa kutahan. Anak-anak pasti sudah pulang sekolah juga, semoga mereka tidak kehujanan. Aku tak ingin mereka sakit lagi, setiap kali aku mendengar mereka sakit, aku selalu mengkhawatirkannya kalau mereka bisa meninggal atau tidak…

 

Ah, maaf. Aku belum memperkenalkan diri. Tapi percuma juga, aku lupa namaku. Sudah lama sekali kulupakannya, terlalu lama.

 

Teman-teman katakan padaku, apa itu rumah? Tempat berteduh? Investasi? Bangunan dengan atap dan ruang? Mungkin begitu, mungkin tidak, tetapi bagiku, aku tak punya kemewahan harfiah itu. Aku bisa berpikir tanpa otak, bisa merasa tanpa kulit. Mendengar dari langkah di lantai, dari tawa dan tangis yang menembus dindingku. Penglihatan? Ha... itu sudah lama dicuri Tuhan. Aku hanya genteng, dinding, batu, dan kayu yang dipaksa bersatu. Aku adalah rumah, bung.

 

Aku tak beda seperti burung-burung yang ada di pohon sebelah kiriku, atau semut-semut yang bertahan hidup di selah-selah dinding-dindingku. Mereka semua bukan tujuan hidup bukan? Secara resmi… bukan, secara langsung. Mereka lahir lalu tau harus melakukan apa segalanya. Aku pun seperti mereka, aku lahir, lalu tau bahwa tujuan ku adalah menjadi rumah. Tetapi kenapakah aku diharuskan untuk lahir lagi menjadi rumah?

 

Kadang aku merasa... lelah. Tapi aku tak bisa tidur, tak bisa mati. Rasanya seperti tubuh yang separuh hidup, lumpuh tapi sadar. Saat ada lubang di tubuhku, aku tak merasa sakitnya, hanya kekosongan yang ditinggalkannya. Begitulah rasanya hidup di tubuh kayu, bata, dan batu. Aku belajar bentukku lewat gema suara. Hujan di atap, langkah di lantai, hembusan angin di sela jendela. Dari situ aku tahu aku besar, beratap miring, berjendela tinggi. Mungkin tampan, untuk ukuran rumah. Hahaha... kalau saja aku bisa melihat diriku sendiri.

 

Di sini mereka memanggilku Imah. Bahasa Sunda, sepertinya. Aku pernah dengar yang serupa di Batavia, tapi tak sama. Ah, Batavia... kota itu masih bertahan, kah?

 

Batavia asal diriku, ibuku dari Amboyna dan ayahku dari Amsterdam. Aku prajurit, voor de Compagnie, seorang insinyur benteng, salah satu projekku yang aku paling bangga adalah pembangunan ulang Blokhuis Amsterdam van Amboyna. Waktu itu… aku pikir aku membangun peradaban, tapi ternyata aku membangun penjara. Setiap batu yang kutumpuk, ada tangan pribumi yang berdarah. Kadang mereka jatuh dari tembok, kadang mereka tak pernah pulang. Aku cuma menutup telinga dan mencatat jumlah bata. Disiplin, katanya. Tugas, katanya.

 

Aku pernah tertawa ketika seorang lelaki tua minta ampun karena anaknya ditangkap. Aku bilang, “aturanlah aturan, aturkan sendiri pak.” Lalu aku pulang dan berdoa di bawah salib. Tuhan diam saja, jadi kupikir aku benar. Kami dulu percaya disiplin adalah kebenaran. Aku menggambar benteng seperti imam menulis doa. Lantai harus lurus, parit harus dalam, dan tubuh siapa pun yang jatuh di dalamnya bukan urusanku.

 

Tetapi, lucu ja? Aku membangun gedung untuk penguasa, lalu justru dijadikan gedung bagi yang dikuasakan olehnya. 

 

Aku punya cerita kecil, pada suatu malam, seorang tawanan mencoba kabur. Aku yang memerintah tentara-tentara dibawah komandan aku untuk menembaknya. Peluru itu meleset dan mengenai anak kecil yang berlari di belakangnya. Aku masih ingat suaranya, jerit pendek, tercekat, lalu diam. Aku hanya mengikuti perintah, bukan? Kadang aku pikir pada diriku, “Aku insinyur, bukan algojo.” Tapi siapa yang membuat tempat algojo itu bekerja kalau bukan aku? 

 

Aku mati di Benteng Meester Cornelis, 1811, aku berumur 32 tahun terakhir aku ingat. Aku masih ingat hari itu, mataharinya panas ada bau mesiu, suara teriak, lalu tiba-tiba ada pisau. Leherku disayat oleh prajurit Inggris. Tubuhku jatuh, tetapi pikiranku masih hidup, menempel pada tanah yang bergetar. Aku tak bisa bergerak, berteriak, ataupun menangis,  hanya bisa mendengar jeritan rekan-rekan mati satu per satu di antara rumput yang menekan wajahku. 

 

Anehnya, badanku tidak dimakan belatung lalat atau binatang lainnya. Perasaan dalam badanku juga melemah, tetapi tidak lenyap. Sebelum benar-benar gelap, seseorang datang. Kainnya berdesir oleh angin, seorang rahib tua, mungkin. Ia menatapku, dan berkata dalam bahasa yang asing waktu itu,

 

“asya purushasya mrutyutah api dushtaram bhagyam shapayatu”

 

Aku tak tahu artinya, tetapi setelah itu, tubuhku berubah menjadi akar. Dari akar aku tumbuh menjadi pohon yang lalu ditebang, dipaku, disusun, dan didirikan jadi rumah. Dari rumah itulah aku telah menyaksikan tiga generasi. 

 

Anak pertama yang kudengar lahir di ruang tengah itu tumbuh menjadi lelaki yang pendiam. Ia suka mengetuk-ngetuk dindingku dengan pensil, seakan menunggu balasan. Ia juga pergi ke sekolah di kota, membawa surat-surat dalam bahasa yang tak kumengerti. Suatu hari, ia tak pernah pulang lagi. Ibunya menangis selama tujuh hari enam malam. Sejak itu, setiap kali hujan turun, kayuku bergerak sendiri, mungkin karena dingin, mungkin karena kenangan.

 

Setelah keluarga itu pergi, datang keluarga baru. Mereka bicara dengan logat lain, membawa alat musik dan teknologi baru, sangat mistis kau tahu? Sebuah alat yang mampu mentransmisikan suara lewat jangkau yang jauh, “radio” kata mereka. Orang belanda yang memasangkannya, pernah menjelaskannya ke keluarga baru itu, untungnya masih ku bisa mengerti. Jadi musik mengisi ruangku, tapi selalu ada ketegangan kecil, seperti mereka menunggu sesuatu pecah. Di masa itu, ada kabar tentang perang di Eropa. Mereka bilang dunia sedang gila lagi. Aku hanya tahu malam-malam mereka jadi lebih sunyi dan lebih banyak keluhan dari anak-anak.

 

Beberapa tahun lalu, dari radio ku dengar Jepang mendarat di Jawa. Teknologi-teknologi baru yang kudengar dari omongan penghuni-ku, aku sudah tak mengerti sama seperti dengan alasan perang atau invasinya mereka. Yang aku ingat itu aku dipakai jadi pos jaga. Sepatu-sepatu berat menapak di lantai kayuku. Suara orang diseret ke luar. Kadang darah menetes di ubin. Fusil mereka lebih canggih sepertinya. Satu tembakan langsung mati, itu keluarga penghuni kedua yang mati pada waktu itu dan… aku hanya bisa diam. Mungkin diam, adalah bentuk doa bagi benda seperti aku. 

 

Sesudahnya, orang-orang kembali. Rumahku tambal-sulam, tapi mereka tetap memanggilku Imah. Anak-anak baru berlari di halamanku, tertawa, memanggil ayam, bernyanyi tentang negeri yang akan merdeka. Aku tidak tahu artinya merdeka. Tapi waktu mereka menyebutnya, suaranya terdengar penuh asa.

 

Sekarang bau solar menggantikan bau dupa. Kota ini, Bandung, “Parijs van Java.” Dulu indah, kini gelisah. Para pemuda datang ke ruang tamuku, barusan, sejam lalu. Mereka  menyusun peta, berbicara tentang kemerdekaan dengan bapaknya keluarga. Dari omongan mereka, aku dengar mereka sekarang melawan… Belanda?

 

Aku juga kurang mengerti, tetapi kata pemudanya mereka harus dievakuasikan, dari yang kudengar, mereka memilih membakar kotanya sendiri, daripada menyerah pada musuh. Malam itu, api menjilat dindingku. Suaranya bukan sekadar retak tapi jerit dari serat kayu yang sudah terlalu lama menahan waktu. Angin dari utara membawa abu, bau minyak, dan suara langkah-langkah tentara. Langitnya pasti juga sudah memerah, aku tak harus punya mata untuk menyadari itu. 

 

Dasar, pohon yang masih tertancap di gentengku kena api. Pertama-tama di papan luar, lalu merayap masuk, menyentuh tulangku. Dulu aku tak pernah tahu api bisa menyakitkan, selama satu abad aku hanya tahu diam. Benarkah aku akan mati lagi? 

…. 

Benarkah? Mengapa… Mengapa ini sangat menyakitkan… Mengapa sekarang? MENGAPA SEKARANG! MENGAPA! Ibu! Tolong aku! Aku… takut… TAKUT! Mijn god, maafkanlah aku. Aku tahu… aku tahu aku berdosa! Aku tak mau mati lagi! Jangan! Tolong akulah Tuhan! Aku mau terus bernafas! Aku tak mau tersedak darahku lagi! Aku bingung… sungguh bingung! Bingung dalam memikirkannya, aku tak mau mati lagi, tapi apakah aku mau terus hidup seperti ini? Apa yang kau lakukan jika kau tahu akan mati, tetapi tak bisa lakukan apapun untuk menghentikannya? Berdoakah? Berdoa kalau kau akan ditolong seseorang atau Tuhan? Menyerahkah? Sialan. Hidupku memang tak benar. Aku Mati aja aku tak bisa tenang, padahal aku prajurit! Apakah dosaku seberat itu aku harus mati dua kali Tuhan? Prajurit atau budak, apa bedanya kalau sama-sama diperintah untuk berbuat salah! Sialan! Sialan…

Aku mendengar mereka, keluargaku sekarang, berlari keluar. Anak kecil menangis. Ayahnya menjerit memanggil nama. Aku ingin bicara, hanya sekali saja, untuk bilang, lari lebih cepat, tolonglah! Tapi lidahku tak ada. Setidaknya keluarga ini, semoga, lebih tepatnya, hidup lebih panjang dari semua penghuni-penghuniku sebelumnya. Aku mencoba menahan, tapi gentengku jatuh satu per satu. Bagian dari pohonnya merobohkan atapku,

Tanganku… ah andaikan kalau aku masih punya tangan, mungkin akan memeluk mereka keluar. Tapi yang kupunya cuma panas. Maka kubiarkan apinya naik dan untuk pertama kalinya sejak aku dikutuk, aku memilih. Bukan untuk bertahan, tetapi untuk melindungi.

Aku menguatkan dindingku agar robohnya lambat, menahan berat atap supaya mereka sempat lari. Api menyambar ruang tamu dan catku meleleh seperti darah lama yang mengalir lagi. Apakah mereka semua sudah selamat? Suara mereka sekarang sudah cukup jauh, jadi semoga itu kenyataannya.

Langkah kaki mengelilingiku saat aku mendengar suara para prajurit berbicara dengan Bahasa Belanda. Pikiran-pikiran terakhirku terletak di kenangan rekan-rekan dan teman-temanku. Mungkinkah mereka keturunan dari teman-temanku? Seorang pemuda KNIL berdiri di depan pintu. “Stop het vuur!” Ia panik, mencari air, ingin menyelamatkan dokumen di dalamku. Aku tahu apa isinya, rencana, senjata, peta untuk menjajah lagi.

Kalau aku bertahan sedikit lagi apakah aku menolong musuh atau teman? Kalau aku menolong prajurit-prajurit itu, apakah aku meneruskan dosaku? Untuk pertama kalinya, aku melanggar perintah terakhir aku. Sudah kan, semua penghuniku keluar? Kalau begitu aku memilih terbakar. Syukurlah, dokumennya membakar denganku, mati denganku.

Di pikir-pikir, mungkin yang dikutukkan oleh rahib tua itu adalah kematianku. “Ini menebuskah dosaku?” kupikir, bahkan dinding bisa berdoa. Balok terakhirku akan runtuh, aku harap neraka tak terlalu panas buatku, iblis sudah menunggu untuk kedatanganku terlalu lama.

Maaf. 

UKM Jurnalistik @2022, All Right Reserved